Saturday, August 10, 2013
Friday, August 2, 2013
Ngabuburit di Bulan Puasa 1434H
Cikarang, 01 Agustus 2013
Hari ini tepat hari ke 24 di bulan Ramadhan 1434H, janji sudah dibuat untuk bertemu teman di seputaran Cibubur untuk berbuka puasa bersama, setelah memperhitungkan perjalanan Cikarang menuju Cibubur bila menggunakan kendaraan bermotor akan menempuh perjalanan dengan lalu lintas yang pasti padat dan tentunya akan tiba di Cibubur melewati waktu berbuka puasa.
Hari ini tepat hari ke 24 di bulan Ramadhan 1434H, janji sudah dibuat untuk bertemu teman di seputaran Cibubur untuk berbuka puasa bersama, setelah memperhitungkan perjalanan Cikarang menuju Cibubur bila menggunakan kendaraan bermotor akan menempuh perjalanan dengan lalu lintas yang pasti padat dan tentunya akan tiba di Cibubur melewati waktu berbuka puasa.
Alternatif bersepeda akhirnnya dipilih untuk perjalanan kali ini sambil ngabuburit atau mengisi waktu sebelum waktu berbuka puasa tiba.
Perjalanan dimulai dari kantor di Cikarang setelah waktu Ashar melalui beberapa kawasan industri yang mulai dipadati kendaraan karyawan yang baru pulang bekerja sehingga cukup terlihat beberapa persimpangan jalan menjadi macet dan diperparah dengan angkot yang ngetem di beberapa titik.
Lepas dari kawasan industri jalan masih terlihat padat merayap hingga pasar Serang karena ada perbaikan jalan yang belum rampung sehingga lalu lintas dari kedua arah harus bergantian untuk melaluinya, dalam hati sempat bergumam untung saja naik sepeda sehingga bisa melalui beberapa sudut sempit tanpa harus terkena macet.
Setelah hampir menempuh perjalanan 22 Km akhirnya saya tiba di Cibarusah dan menjumpai pertigaan Jonggol yang bila ke kiri akan menuju Cariu Cianjur, di pertigaan ini saya mengambil ke arah kanan melalui Ciputra Grand, Taman Buah Mekar Sari, Harvest City dan akhirnya tiba di pasar Cileungsi yang masih manyuguhkan kemacetan karena perbaikan jalan belum rampung juga walaupun arus mudik Hari Raya Lebaran sudah di depan mata.
Akhirnya dengan melalui jembatan fly over Cileungsi saya tiba di jalan Trans Yogi Cibubur sebelum waktu Adzan Maghrib berkumandang, saya menjadi peserta pertama yang tiba di Rumah Makan sedangkan rekan yang lain masih dalam perjalanan karena terkena lalu lintas yang macet.
Nikmatnya bersepeda masih terasa walaupun sedang menunaikan ibadah puasa dan saat Adzan Maghrib berkumandang tegukan demi tegukan mulai membasuh rasa dahaga ini dan tak sadar hampir satu botol aqua hanya tersisa beberapa tetes saja.
Selamat Idul Fitri 1434 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Share On:
Thursday, July 4, 2013
Jalan-Jalan ke Ujung Genteng dan Curug Cikaso Sukabumi

Dimuat pada Majalah Asuransi Allianz Indonesia, Mobilitas Edisi 02 2014
Sukabumi, 29 June 2013
Sudah
lama mendengar akan indahnya pemandangan di Pantai Ujung Genteng dan
Curug Cikaso, sudah lama pula merencanakan perjalanan untuk
mengunjunginya tetapi selalu ada kendala mulai kurang berminatnya
rekan-rekan sejawat yang berdalih bahwa lokasinya sangat jauh yaitu 200
Km baik dari Kota Bandung maupun dari Ibu Kota Jakarta.
Saat
bersepeda pada trip Patok Beusi ke Bagbagan Pelabuhan Ratu pada awal
bulan Juni lalu, sempat terlihat penunjuk jalan yang menunjukan arah ke
Surade dan Ujung Genteng yang terlihat tidak jauh lagi yang membuat rasa
penasaran itu semakin menjadi. Sempat terucap juga dari rekan-rekan
seperjalanan untuk mengunjungi Ujung Genteng pada akhir bulan Juni
sebelum memasuki bulan Ramadahan.
Seperti
yang sering terjadi sebelumnya beberapa rekan mengundurkan diri untuk
turut serta dalam perjalanan kali ini dimana dari rencana awal 10 orang
hingga akhirnya menyisakan 3 orang saja. Hal ini tak menyurutkan niat
kami untuk tetap melanjutkan perjalanan ini. Kalau kata lagunya group
band Queen - "The Show Must Go On"
Kami
bertiga yaitu Kang Sosan dari Komunitas Gowest'er Bandung (KGB) dan
juga anggota dari Volkswagen Club Bandung (VCB), Kang Doeddy dari
Aquilla MTB Cianjur dan saya sendiri rencananya barangkat pukul 07.00
dari kota Bandung.
Pada
saat sepeda saya hendak dimasukan ke dalam VW Combi saya meliat ada
baut yang jatuh dan rupanya baut dari rear shock yang patah, hal
tersebut membuat saya termenung sesaat karena hal tersebut pasti akan
menghambat saya untuk menggunakan sepeda di sana nantinya.
Saat
itu juga yang terlintas dalam benak saya adalah untuk menghubungi Kang
Deddy Bike yang kebetulan bengkelnya dekat sekali dengan titik kumpul,
karena masih pagi komunikasi dengan crew Deddy Bike tidak dapat
tersambung baik melalui telpon maupun pesan singkat. Diputuskan untuk
melanjutkan perjalanan dengan harapan rekan dari Cianjur bisa mengatasi
hal tersebut nantinya di bengkel sepeda miliknya.
Ketika
melintasi jalan Pasupati hendak menuju tol Pasteur, crew Deddy Bike
menjawab pesan singkat kami dan menyanggupi untuk mengatasi masalah pada
sepeda saya. Akhirnya kami berputar balik dan bergegas menuju Jalan
Veteran.
Tidak
sampai 15 menit masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik oleh
Kang Izal dan kami segera bergegas kembali menuju kota Cianjur menjemput
seorang rekan di sana, tak lupa kami sarapan di Kupat Tahu Padalarang
yang terkenal itu.
Perjalanan
kami didominasi dengan berkendara menggunakan roda empat sedangkan
bersepeda hanya sebagai pelengkap dalam perjalanan kami kali ini karena
waktu yang kami miliki waktu 2 hari saja.
Tepat
pukul 12.00 kami tiba di kota Sukabumi untuk beristirahat dan
melaksanakan ibadah Sholat Jum'at di dekat jalan menuju arah Selatan ke
luar kota Sukabumi
Pantai Ujung Genteng dapat ditempuh dari kota Sukabumi melalui dua jalan yang berbeda:
- Sukabumi - Sagaranten - Tegal Buled -Surade - Ujung Genteng atau
- Sukabumi - Jampang Tengah - Kiara Dua - Surade - Ujung Genteng
Saat itu kami mengambil jalan
alternatif 1 dan jalan yang dilalui sudah mulai berlika-liku khas jalan
menuju pantai selatan Pulau Jawa, tetapi di tengah jalan dari penunjuk
jalan yang terlihat kami sempat bingung dan bertanya pada penduduk
setempat dan disarankan untuk berbelok ke kanan yang akhirnya tembus ke
Jampang Tengah (alternatif 2).
Sebelum
memasuki perkebunan teh Cimenteng kami teringat kembali pada titik
start Desa Joglo pada perjalanan bersepeda kami ke Patok Beusi. Setelah
perkebunan teh ini jalan masih berliku sebelum memasuki Kiara Dua dan
Surade.
Melewati
Surade nyiur melambai mulai terlihat di sebelah kiri jalan seakan
menyambut kehadiran kami di pantai Ujung Genteng dan hamparan rumput
hijau yang dipenuhi sapi-sapi milik warga setempat. Sudah menjadi niat
pada esok pagi untuk bersepeda di ladang rumput dan jajaran nyiur
melambai ini karena kami tiba di pantai Ujung Genteng menjelang adzan
Maghrib berkumandang.
Di
pantai Kelapa Condong kami sempat berfoto dekat dermaga peninggalan
jaman Belanda yang sudah rusak tetapi meriamnya masih terlihat menyembul
di perairan. Pantai ini dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan dan sebagai
tempat untuk melihat matahari terbit.
Dekat
TPI ini kami memasuki Rumah Makan yang menerima jasa masak ikan yang
kita beli dari tempat pelelangan ikan, di sini kami menikmati makan
malam sebelum menuju penginapan di daerah Pangumbahan. Di daerah ini
banyak sekali villa-villa yang disewakan dengan tarif yang beragam pula.
Tepat
pukul 21.00 dengan menggunakan Sepeda kami ber "Night Ride" menuju
daerah Cibuaya tempat penyu bertelur dan pelepasan tukik atau anak penyu
ke laut. Ternyata pelepasan tukik sudah lewat waktunya yaitu pukul
17.30. Sedangkan waktu penyu bertelur biasanya mulai pukul 18.00 hingga
pukul 04.00, penyu ukuran besar akan muncul dari laut menuju pasir putih
pantai untuk bertelur dan kemudian kembali menuju Samudra kembali.
Setelah
melihat dan mengabadikan matahari terbit di dekat TPI, kami sarapan
pagi dan melanjutkan perjalanan bersepeda keliling pantai melalui padang
rumput dan kebun kelapa yang kemarin terlihat melambai ke arah kami.
Beberapa kali kami mencoba single trek yang menurun ke arah pantai
hingga akhirnya kami menemukan jajaran karang dengan ombaknya yang
sangat besar.
Di
tempat ini perlu ekstra kehati-hatian bila akan melakukan foto
dipinggiran karang karena sesekali terlihat ombak besar datang
menghantam pinggiran karang ini.
Perjalanan
kami lanjutkan dengan menggunakan mobil menuju Curug Cikaso yang
lumayan jauh dari Pantai Ujung Genteng ini, di mana dari Surade ada
jalan berbelok ke kanan menuju Tegal Buled. Curug Cikaso memiliki 1
curug besar dan 1 curug yang kecil.
Kami
menggunakan sepeda melalui single trek menuju Curug Cikaso, menumpang
perahu atau berjalan kaki menyusuri pematang sawah bisa menjadi
alternatif menuju curug ini. Perlu ekstra hati-hati saat melalui
lintasan ini karena selain licin juga lintasannya cukup sempit.
Akhirnya
tiba saat kami untuk kembali pulang menuju Bandung melalui jalan
alternatif 2, jalan di sini lebih berliku dibandingkan alternatif 1.
Setelah perkebunan karet kami dihadang kemacetan hampir 1 jam karena
jalan dipenuhi dengan kendaraan dan para pedagang yang kala itu sedang
dilangsungkan Pemilihan Kepala Desa.
Saat
pukul 15.30 kami memasuki kota Tegal Buled kendaraan milik Kang Sosan
bermasalah dengan mesinnya sehingga kami parkir di Mesjid At Taufiq di
daerah Rancajawa. Kami mencoba membetulkannya tetapi nasib berkata lain
kendaraannya tidak dapat hidup normal.
Pikiran
kami berkecamuk campur aduk kala itu karena kami masih terhambat di 110
Km dari Sukabumi, kami mencoba mencari toko spare parts di seputaran
Tegal Buled tetapi hasilnya nihil. Antara waktu Maghrib dan Isya, Bapak
Haji Aceng mengajak berbincang dengan kami dan menanyakan ada masalah
apa dengan mobil kami.
Kami
bertanya apakah ada jasa derek untuk kembali ke Sukabumi? menurut Pak
Haji ada dengan menggunakan truk tetapi baru bisa dilaksanakan esok
harinya karena hari sudah beranjak malam dan terlihat sangat sepi.
Mendengar
hal tersebut rasa kecewa pada kami terlihat jelas dari raut wajah kami
dan pada akhirnya Pak Haji Aceng yang baik hati bersedia meminjamkan
kendaraan Pick Up-nya untuk kembali ke Sukabumi sedangkan kendaraan Kang
Sosan ditinggal di rumah Pak Haji dan akan di evakuasi esok harinya
oleh montir langganannya dengan berbekal spare parts tentunya.
Rute
Tegal Buled menuju Sagaranten menyuguhkan tanjakan dan turunan yang
sangat curam dan jalan yang sempit, sempat masuk dalam obrolan kami
bahwa rute ini cocok untuk bersepeda endurance.
Kami
tiba di Sagaranten dan baru bisa menikmati makan malam di sana pukul
21.00 dan pada akhirnya Kang Sosan mengantarkan kami ke Kota Cianjur dan
beliau kembali ke Kota Sukabumi ke rumah orang tuanya tepat tengah
malam. Saya sendiri kembali menuju kota Bandung menggunakan kendaraan
jemputan yang telah tiba terlebih dahulu 1 jam sebelum kami tiba di
Cianjur.
Keep those legs turning and stay healthy everyone...Cheers
Share On:
Subscribe to:
Posts (Atom)




























































































